Yesus Jawaban
Mengidap penyakit tentu bukanlah keadaan yang menyenangkan. Terlebih lagi ketika penyakit tersebut memaksa seseorang untuk dikucilkan dari lingkungan sosialnya. Keadaan seperti ini membuat hidup menjadi sangat berat dan tidak mudah untuk dijalani.
Hari ini, kita akan belajar dari kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus terhadap seorang yang menderita penyakit kusta Matius 8:1-4.
Peristiwa ini terjadi setelah Yesus turun dari bukit, di mana sebelumnya Ia telah mengajar tentang nilai-nilai hidup sebagai warga Kerajaan Allah.
Dalam Matius pasal 8 dan 9, kita menemukan sembilan perikop yang mencatat mukjizat-mukjizat Yesus. Melalui catatan ini, Matius hendak menyatakan bahwa Yesus datang membawa Kerajaan Allah secara nyata ke dalam kehidupan manusia.
Di tengah kerumunan orang banyak yang mengikuti Yesus, Matius menyoroti seorang penderita kusta (ayat 1-2). Pada masa itu, penderita kusta dianggap najis. Mereka harus hidup di luar komunitas, tidak boleh menyentuh siapa pun, bahkan tidak diizinkan untuk beribadah di Bait Allah. Mereka adalah orang-orang yang dianggap "mati selagi hidup".
Namun yang menarik, orang kusta ini menunjukkan keberanian iman yang luar biasa. Ia menembus batas-batas sosial dan ritual demi datang kepada Yesus. Imannya berkata bahwa hanya Yesus satu-satunya jawaban atas pergumulannya, sehingga ia berseru: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
Dari kisah ini, kita belajar beberapa hal penting:
1. Dari Si Kusta
- Ia menunjukkan iman yang percaya bahwa hanya Yesus yang sanggup memulihkan keadaannya.
- Ia bersedia menembus segala rintangan demi mendekat kepada Yesus.
- Pernyataannya, "Jika Engkau mau," menunjukkan iman yang tunduk dan berserah pada kehendak Tuhan. Iman yang ditunjukkan si kusta ini serupa dengan ketaatan Yesus di Taman Getsemani (Markus 14:36) dan keteguhan iman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (Daniel 3:17-18).
2. Dari Yesus
- Yesus menyambut mereka yang mau datang kepada-Nya tanpa memandang keadaan mereka.
- Ia bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga menjamah orang kusta itu—sebuah tindakan yang melampaui batas sosial dan keagamaan pada zaman itu.
- Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus mengasihi dan merangkul orang yang dikucilkan serta dianggap hina oleh masyarakat (Lukas 5:30-32).
- Sama seperti ketika Yesus mengangkat martabat perempuan Samaria (Yohanes 4:7-10) atau memanggil Matius (Matius 9:9), Ia tidak melihat status sosial atau reputasi masa lalu seseorang, melainkan melihat hati dan respons mereka terhadap panggilan Tuhan.
KESIMPULAN
- Yesus adalah jawaban atas setiap pergumulan manusia, tidak peduli seberat dan seburuk apa pun keadaannya.
- Iman sejati bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup, tetapi juga berserah penuh pada keputusan kehendak-Nya.
- Yesus tidak jijik terhadap orang berdosa yang mau datang kepada-Nya. Ia sanggup menjamah, menyucikan, dan memulihkan kita dengan sempurna

0 Komentar:
Posting Komentar